Mula-mula kaum Tsamud sangat terhairan-hairan ketika melihat unta
lahir dari batu-batuan gunung. Ia adalah unta yang diberkati di mana
susunya cukup untuk ribuan laki-laki, wanita, dan anak-anak kecil. Jika
unta itu tidur di suatu tempat, maka binatang-binatang lain akan
menyingkir darinya. Jelas sekali ia bukan unta biasa, namun ia
merupakan tanda-tanda kebesaran dari Allah SWT. Unta itu hidup di
tengah-tengah kaum Nabi Saleh. Berimanlah orang-orang yang beriman di
antara mereka dan sebahagian besar mereka tetap berada dalam
penentangan dan kekafiran. Kebencian terhadap Nabi Saleh berubah
menjadi kebencian kepada unta yang diberkati itu. Mulailah mereka
membikin persekongkolan untuk melawan unta itu. Orang-orang kafir
sangat membenci mukjizat yang agung ini dan mereka membuat rencana
jahat untuk melenyapkannya. Sebagaimana biasanya, para tokoh-tokoh
kaumnya berkumpul untuk membuat, makar. Allah SWT berfirman:
"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka,
Saleh. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada
Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang
nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda
bagimu, maka biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah
kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang kerananya)
kamu akan ditimpa seksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu
Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)
sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu
dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat
gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah;, maka ingatlah nikmat-
nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan
membuat kerosakan. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di
antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah
yang telah beriman di antara mereka: 'Tahukah kamu bahawa Saleh
diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya ?' Mereka menjawab:
'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk
menyampaikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata:
'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang
kamu imani itu." (QS. al-AVaf: 73-76)
Nabi Saleh menyeru kaumnya dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah SWT dan
mengingatkan mereka bahawa Allah SWT telah mengeluarkan mukjizat
bagi mereka, yaitu unta. Mukjizat itu sebagai bukti akan kebenaran
dakwahnya. Beliau memohon kepada mereka agar mereka membiarkan
unta itu memakan dari hasil bumi, dan setiap bumi adalah bumi Allah
SWT. Beliau juga mengingatkan mereka agar jangan sampai
mengganggunya kerana yang demikian itu dikhuatirkan akan
mendatangkan azab bagi mereka. Bahkan beliau mengingatkan mereka
dengan nikmat-nikmat Allah SWT yang turun kepada mereka: "Bagaimana
Dia menjadikan mereka penguasa-penguasa yang datang setelah kaum
'Ad, bagaimana Dia memberi mereka istana dan gunung-gunung yang
terukir serta berbagai kenikmatan dan kekuatan."
Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saleh namun kaumnya justru
menjawabnya dengan jawapan yang aneh. Mereka tidak menghiraukan
nasihat Nabi mereka. Mereka menemui orang-orang yang beriman kepada
Nabi Saleh. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang tujuan untuk
merendahkan dan mengejek: "Apakah kalian mengetahui bahawa Saleh
seseorang yang diutus dari Tuhannya?" Pertanyaan ini tidak pantas
dikemukakan setelah mereka melihat mukjizat unta. Alhasil, mereka
merendahkan pengikut Nabi Saleh dan mengejeknya.
Sekelompok kecil yang beriman kepada Nabi Saleh berkata:
"Sesungguhnya kami percaya dengan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh."
Perhatikanlah jawapan orang-orang mukmin. Jawapan tersebut sangat
bertentangan dengan jawapan para pembesar dari kaum Nabi Saleh. Para
pembesar itu justru meragukan kenabian Saleh sedangkan orang-orang
mukmin itu menegaskan kepercayaan mereka terhadap kebenaran yang
dibawa oleh Nabi Saleh.
Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh tidak berhubungan dengan unta
itu, namun berhubungan dengan dakwahnya dan ajarannya. Mereka
mengatakan: "Kami mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Saleh," dan
mereka tidak mengatakan: "Kami beriman kepada untanya." Mereka tidak
mengatakan bahawa unta itu yang menetapkan kenabian Saleh. Orang-
orang mukmin lebih memperhatikan kebenaran ajaran yang dibawa oleh
Nabi Saleh, bukan memperhatikan mukjizat yang luar biasa itu. Melalui
dialog tersebut kita dapat melihat sikap orang-orang kafir di mana
mereka justru merasa mulia dengan penentangan terhadap kebenaran:
"Orang-orang yang menyombongkan
diri berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada
apa yang kamu imani itu. "
Demikianlah penghinaan mereka, kesombongan mereka, dan kemarahan
mereka. Rasa-rasanya sia-sia untuk mencari dalil yang dapat memuaskan
orang-orang kafir saat berdialog dengan mereka. Mereka selalu menolak
kebenaran, padahal mereka orang-orang yang merdeka dalam memilih
kebenaran itu.
Malam mulai menyelimuti kota Tsamud. Gunung-gunung yang kukuh
menjulang dan melindungi rumah-rumah yang terukir di dalamnya.
Dinyalakanlah lampu-lampu dalam istana yang terukir di gunung itu.
Gelas-gelas minuman diputarkan di antara mereka. Tidak ada seorang
pun dari tokoh-tokoh kaum yang tidak hadir dipertemuan penting itu. Di
mulailah pertemuan dan terjadilah dialog. Salah seorang kaflr berkata:
"Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di
antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar dalam
keadaan sesat dan gila. " (QS. al-Qamar: 24)
Sementara yang lain menjawab:
"Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya
dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. " (OS. al-
Oamar: 25)
Gelas-gelas minuman kembali diputar di antara mereka, dan
pembicaraan beralih dari Saleh ke unta Allah SWT. Salah seorang kafir
berkata: "Jika datang musim panas, maka unta itu mendatangi lembah
yang dingin sehingga binatang-binatang ternak yang lain lari darinya dan
kepanasan." Seorang kafir lagi berkata: "Jika datang musim dingin unta
itu mencari tempat penghangat, lalu ia istirahat di situ sehingga
binatang-binatang ternak kita lari darinya dan menuju tempat yang
dingin sehingga terancam kematian."
Gelas-gelas minuman kembali diputar dan bergoyang di tangan orang-
orang yang meminum. Salah seorang yang duduk memerintahkan agar
perempuan yang menyanyi berhenti dari nyanyiannya kerana ia sedang
berfikir. Kemudian kesunyian menghantui segala penjuru. Orang itu mulai
berfikir sambil meminum dua gelas minuman keras, dan dengan suara
pelan ia berkata: "Hanya ada satu cara." Orang-orang yang duduk di
sekitarnya bertanya: "Bagaimana jalan keluarnya?" Tokoh mereka
berkata: "Kita harus melenyapkan Saleh dari jalan kita. Yang saya
maksud adalah untanya. Kita harus membunuh untanya dan setelah itu
kita akan membunuh Saleh." Demikianlah cara yang dilakukan orang-
orang yang kafir sepanjang sejarah. Demikianlah senjata yang digunakan
oleh mereka dalam menghadapi kebenaran. Mereka tidak menggunakan
akal sehat atau adu argumentasi, tapi mereka justru menggunakan
kekuatan fizik. Bagi mereka, ini adalah cara yang paling aman.
Pembunuhan akan menyelesaikan masalah. Namun salah seorang di
antara mereka berkata: "Bukankah Saleh mengingatkan kita akan azab
yang keras jika kita sampai menyakiti unta itu." Namun, orang-orang yang
duduk di majlis itu segera memadamkan suara orang itu dengan dua gelas
arak.
Kemudian percakapan dimulai tentang Saleh: "Berapa kali kita putus asa
dan dibuat kecewa olehnya. Sebaik-baik jalan adalah membunuhnya.
Mula-mula kita membunuh untanya setelah itu kita akan menghabisi
Saleh." "Namun siapa gerangan yang berani membunuhnya?" Pertanyaan
itu menciptakan keheningan di antara mereka. Setelah beberapa saat,
salah seorang mereka mengangkat suara: "Saya mengenal seseorang yang
dapat membunuhnya." Lalu nama demi nama berputar di antara mereka
sehingga mereka menyebut seorang penjahat yang selalu membikin
kerosakan di muka bumi dan ia suka mabuk-mabukan. Ia mempunyai
kelompok penjahat di kota.
"Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerosakan
di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan." (QS. an-Naml:
48)
Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat
kota yang terkenal. Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan.
Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam
tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya
yang kecil di dadanya. Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan
mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat
tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak
mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka
banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di
depannya.
"Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta
itu) dan membunuhnya." (QS. al-Qamar: 29)
Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah
anaknya dalam keadaan takut. Akhirnya, darah unta itu terkubur dan
anaknya pun terbunuh. Nabi Saleh mengetahui apa yang terjadi, lalu
beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya. Beliau
berkata kepada mereka: "Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian
jangan mengganggu unta itu." Mereka menjawab: "Kami memang telah
membunuhnya, maka datangkanlah seksaan kepada kami jika engkau
mampu. Bukankah engkau berkata bahawa engkau termasuk utusan
Tuhan." Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:
"Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah
janji yang tidak dapat didustakan." (QS. Hud: 65)
Setelah itu, Nabi Saleh meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji
Allah SWT untuk menghancurkan mereka setelah tiga hari. Berlalulah tiga
hari seksaan atas orang-orang kafir dan mereka menunggu-nunggu azab
yang datang. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan
yang keras di mana teriakan itu menghancurkan gunung dan
membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi
bergoncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya. Itu adalah satu
teriakan saja yang membuat kaum Nabi Saleh hancur berantakan. Allah
SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cubaan
bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah.
Dan beritakanlah kepada mereka bahawa sesungguhnya air itu terbagi
antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum
dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil
kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.
Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras
mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering
(yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. " (QS. al-
Qamar: 27-31)
Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan
orang-orang yang beriman bersama Nabi Saleh, mereka telah
meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.
Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran
Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya
surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68
dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.
Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh a.s.
Pengajaran yang menonjol yang dapat dipetik dari kisah Nabi Saleh ini
ialah bahawa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh
sekelompok kecil warga masyarakat dapat berakibat negatif yang
membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan
tersapu bersih dari atas bumi kerana dosa dan pelanggaran perintah Allah
yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh
A.S.
Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar
makruf nahi mungkar. kerana dengan melakukan tugas amar makruf nahi
mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak
berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan
lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau
merestui perbuatan mungkar itu
Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang
berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan
penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.