"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar
baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami
berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah)
di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji
kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk
mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan
kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 127-129)
Ka'bah terdiri dari batu-batuan yang ada di bumi di mana ia dijadikan
pondasi oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Sejarah menceritakan bahawa ia
pernah dihancurkan lebih dari sekali sehingga ia pun beberapa kali
dibangun kembali. Ia tetap berdiri sejak masa Nabi Ibrahim sampai hari
ini. Dan ketika Rasulullah saw diutus - sebagai bukti pengabulan doa
Nabi Ibrahim - beliau mendapat Ka'bah dibangun terakhir kalinya, dan
tenaga yang dicurahkan oleh orang-orang yang membangunnya sangat
terbatas di mana mereka tidak menggali dasarnya sebagaimana Nabi
Ibrahim menggalinya. Dari sini kita memahami bahawa Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail mencurahkan tenaga keras yang tidak dapat ditandingi oleh
ribuan laki-laki. Rasulullah saw telah menegaskan bahawa kalau bukan
kerana kedekatan kaum dengan masa jahiliah dan kekhuatiran orang-
orang akan menuduhnya dengan berbagai tuduhan jika beliau
menghancurkannya dan membangunkannya kembali, nescaya beliau ingin
merobohkannya dan mengembalikannya ke pondasi Nabi Ibrahim.
Sungguh kedua nabi yang mulia itu telah mencurahkan tenaga keras
dalam membangunnya. Mereka berdua menggali pondasi kerana
dalamnya tanah yang di bumi. Mereka memecahkan batu-batuan dari
gunung yang cukup jauh dan dekat, lalu setelah itu memindahkannya dan
meratakannya serta membangunnya. Tentu hal itu memerlukan tenaga
keras dari beberapa lelaki tetapi mereka berdua membangunnya
bersama-sama. Kita tidak mengetahui berapa banyak waktu yang
digunakan untuk membangun Ka'bah sebagaimana kita tidak mengetahui
waktu yang digunakan untuk membuat perahu Nabi Nuh. Yang penting
adalah, bahawa perahu Nabi Nuh dan Ka'bah sama-sama sebagai tempat
perlindungan manusia dan tempat yang membawa keamanan dan
kedamaian. Ka'bah adalah perahu Nabi Nuh yang tetap di atas bumi
selama-lamanya. Ia selalu menunggu orang-orang yang menginginkan
keselamatan dari kedahsyatan angin taufan yang selalu mengancam
setiap saat.
Allah s.w.t tidak menceritakan kepada kita tentang waktu pembangunan
Ka'bah. Allah s.w.t hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan
lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang
yang membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:
"Tuhan kami, terimalah dari hand (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (QS. al-
Baqarah: 127)
Itulah puncak keikhlasan orang-orang yang ikhlas, ketaatan orang-orang
yang taat, ketakutan orang-orang yang takut, dan kecintaan orang-orang
yang mencintai:
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh
kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara cucu kami umat yang
tunduk patuh kepada Engkau." (QS. al-Baqarah:
128)
Sesungguhnya kaum Muslim yang paling agung di muka bumi saat itu,
mereka berdoa kepada Allah s.w.t agar menjadikan mereka termasuk
orang-orang yang berserah diri pada-Nya. Mereka mengetahui bahawa
hati manusia terletak sangat dekat dengan ar-Rahman (Allah s.w.t).
Mereka tidak akan mampu menghindari tipu daya Allah s.w.t. Oleh
kerana itu, mereka menampakkan kemurnian ibadah hanya kepada Allah
s.w.t, dan mereka membangun rumah Allah s.w.t serta meminta pada-
Nya agar menerima pekerjaan mereka.
Selanjutnya, mereka meminta Islam (penyerahan diri) pada-Nya dan
rahmat yang turun pada mereka di mana mereka memohon kepada Allah
s.w.t agar memberi mereka keturunan dari umat Islam. Mereka ingin agar
jumlah orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang sujud dan
rukuk semakin banyak. Sesungguhnya doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
menyingkap isi had seorang mukmin. Mereka membangun rumah Allah
s.w.t dan pada saat yang sama mereka disibukkan dengan urusan akidah
(keyakinan). Itu mengisyaratkan bahawa rumah itu sebagai simbol dari
akidah.
"Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah
haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 128)
Perlihatkanlah kepada kami cara ibadah yang Engkau sukai.
Perlihatkanlah kepada kami bagaimana kami menyembah-Mu di bumi.
Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat
dan Maha Penyayang. Setelah itu, kepedulian mereka melampaui masa
yang mereka hidup di dalamnya. Mereka berdoa kepada Allah s.w.t:
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau,
dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah
(as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 129)
Akhirnya, doa tersebut terkabul ketika Allah s.w.t. mengutus Muhammad
bin Abdullah saw. Doa tersebut terwujud setelah melalui masa demi
masa. Selesailah pembangunan Ka'bah dan Nabi Ibrahim menginginkan
batu yang istimewa yang akan menjadi tanda khusus di mana tawaf di
sekitar Ka'bah akan dimulai darinya. Ismail telah mencurahkan tenaga di
atas kemampuan manusia biasa. Beliau bekerja dengan sangat antusias
sebagai wujud ketaatan terhadap perintah ayahnya. Ketika beliau
kembali, Nabi Ibrahim telah meletakkan Hajar Aswad di tempatnya.
"Siapakah yang mendatangkannya (batu) padamu wahai ayahku?" Nabi
Ibrahim berkata: "Jibril as yang mendatangkannya." Selesailah
pembangunan Ka'bah dan orang- orang yang mengesakan Allah s.w.t serta
orang-orang Muslim mulai bertawaf di sekitarnya. Nabi Ibrahim berdiri
dalam keadaan berdoa kepada Tuhannya sama dengan doa yang
dibacanya sebelumnya, yaitu agar Allah s.w.t menjadikan had manusia
cenderung pada tempat itu:
"Maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka.
"(QS. Ibrahim: 37)
kerana pengaruh doa tersebut, kaum Muslim merasakan kecintaan yang
dalam untuk mengunjungi Baitul Haram. Setiap orang yang mengunjungi
Masjidil Haram dan kembali ke negerinya ia akan merasakan kerinduan
pada tempat itu. Semakin jauh ia, semakin meningkat kerinduannya
padanya. Kemudian, datanglah musim haji pada setiap tahun, maka hati
yang penuh dengan cinta pada Baitullah akan segera melihatnya dan rasa
hausnya terhadap telaga zamzam akan segera terpuaskan. Dan yang lebih
penting dari semua itu adalah cinta yang dalam terhadap Tuhan,
Baitullah dan telaga zamzam yaitu, Tuhan alam semesta. Allah s.w.t
berfirman berkenaan dengan orang-orang yang mendebat Nabi Ibrahim
dan Nabi Ismail:
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan
tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah)
dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
" (QS. Ali 'Imran: 67)
Allah s.w.t mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan beliau yang pertama kali
menamakan kita sebagai orang-orang Muslim. Allah s.w.t berfirman:
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah
menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dan dahulu. " (QS. al-
Hajj: 78)