Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua
mengatakan bahawa larangan Nabi tersebut terjadi pada permulaan
masa Islam di mana kaum Muslim sangat dekat dengan masa jahiliah.
Nabi memerintahkan mereka agar tidak disibukkan dengan kitab-kitab
lain selain kitab mereka, yakni Al-Quran. Yang demikian ini dimaksudkan
agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan mereka benar-
benar tertanam dalam diri mereka, Tetapi ilmu dan pandangan ilmiah
menetapkan bahawa seorang yang alim harus banyak menggali kitab-
kitab kuno dalam rangka mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati
sesuatu yang sesuai dengan apa yang didapatinya dengan kebenaran,
maka hatinya akan lebih merasa tenang dan damai. Berkaitan dengan
kelompok yang pertama yang merasa cukup dengan Al-Quran, kita tidak
menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha
penangkapan Isa, bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana
Isa diserupakan dengan salah seorang di antara mereka, bagaimana dia
diserupakan dengan salah seorang di antara mereka. Allah SWT telah
menyerupakannya dengan salah seorang di antara mereka sedangkan
Nabi Isa diangkat ke langit. Demikianlah penjelasan singkat mereka,
tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang kedua, mereka
melontarkan kisah secara lengkap. Mereka mengatakan bahawa Allah
SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah Yahuda al-
Askhariyutha yang menurut Injil ia menjualnya kepada musuh-musuhnya
dan menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah
seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan Injil Barnabas
di mana disebutkan di dalamnya: "Ketika para tentera mendekat bersama
Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu', maka Yasu' mendengar
kedatangan segerombolan orang yang menuju tempatnya. Oleh kerana
itu, ia segera pergi ke rumah dalam keadaan takut. Di dalam rumah itu
terdapat sebelas orang yang tidur. Ketika Allah melihat bahaya akan
mengancam hamba-Nya, maka Dia memerintahkan Jibril, Mikail, dan
Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang mereka semua adalah para utusan-
Nya untuk mengambil Yasu' dari dunia. Lalu datanglah malaikat-malaikat
yang suci di mana mereka mengambil Yasu' dari pintu yang dekat dengan
arah selatan. Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang
ketiga dengan disertai para malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah
selama-lamanya. Yahuda masuk secara paksa ke kamar yang di situlah
Yasu' diangkat ke langit. Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya,
lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda
berubah cara berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali
dengan Yasu' sehingga kami mengiranya Yasu'. Adapun ia (Yahuda)
setelah membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada.
Oleh kerana itu, kami merasa heran dan kami menjawab, "bukankah
engkau wahai tuanku guru kami, apakah sekarang engkau telah
melupakan kami?" Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas.
Allah SWT berfirman:
"Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang rasul yang
Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya
seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan."
(QS. al-Maidah: 75)
Para ulama berkata, "Al-Masih dinamakan al-Masih kerana ia mengusap
bumi dan membersihkannya serta usahanya untuk menyelamatkan agama
dari fitnah di zaman itu kerana saking hebatnya kebohongan orang-orang
Yahudi kepadanya dan bagaimana usaha mereka untuk menciptakan
dusta padanya dan kepada ibunya as." Banyak ulama yang meriwayatkan
tentang kesucian spirituil dari Nabi Isa. Abu Hurairah meriwayatkan dari
Nabi bahawa beliau menceritakan tentang al-Masih sebagai berikut: "Isa
melihat seorang lelaki yang mencuri lalu ia berkata: "Wahai si fulan
apakah engkau mencuri?" Orang itu berkata: "Tidak, demi Allah aku tidak
mencuri," Isa berkata: "Aku beriman kepada Allah SWT dan penglihatanku
telah berbohong." Ini menunjukkan kesucian rohani Isa di mana ia lebih
memilih sumpah orang itu atas apa yang disaksikannya. Ia
membayangkan bahawa orang tersebut tidak akan bersumpah dan
membawa nama Allah SWT yang Maha Besar lalu ia berdusta sehingga ia
menerima penyataannya dan ia kembali kepada dirinya sendiri sambil
berkata: "Aku beriman kepada Allah SWT, yakni aku mempercayaimu dan
mataku telah berbohong kerana engkau telah bersumpah." Ada riwayat
lagi yang mengatakan bahawa suatu hari Nabi Isa berjalan bersama
sahabatnya dan mereka melewati bangkai anjing yang busuk baunya, lalu
sahabat-sahabat Isa sangat terpukul dan sangat menderita dengan bau
anjing itu. Melihat sikap mereka, Isa berkata: "Lihatlah betapa putih
giginya."
Isa ingin mengajari manusia bagaimana mereka menghadapi keburukan di
mana Nabi Isa menekankan agar mereka lebih melihat kepada keindahan
dan kebaikan. Dakwah Nabi Isa merupakan puncak dari ketinggian rohani
dan idealisme yang mengagumkan di mana Beliau lebih menekankan
kebaikan daripada keburukan. Rasulullah berkata: "Semua para nabi
adalah saudara, agama mereka satu sedangkan mereka dilahirkan dari
berbagai macam ibu dan aku adalah manusia yang utama begitu juga Isa
bin Maryam di mana tidak ada nabi setelahku dan sesudahnya." Dalam
berbagai riwayat disebutkan bahawa Nabi Isa akan turun pada akhir
zaman. Islam sangat memberikan penghormatan kepada Isa yang sesuai
dengan kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi yang besar. Islam
menamakannya Rasulullah dan Kalimatullah yang telah diberikan kepada
Maryam. Allah SWT berfirman:
"Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu,
dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.
Sesungguhnya al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan
(yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada
Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: '(Tuhan
itu) tiga.' Berhentilah dari ucapan itu. (Itu) lebih baik bagimu.
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci dari mempunyai
anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya.
Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak
enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat
malaikat yang terdekat (kepada Alah). Barang siapa yang enggan dari
menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan
mengumpulkan mereka semua kepadanya. Adapun orang-orang yang
beriman dan berbuat amal soleh, maka Allah akan menyempurnakan
pahala mereka dan menambah untuk mereka sebahagian dari kurnia-
Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri,
maka Allah akan menyeksa mereka dengan seksaan yang pedih, dan
mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan
penolong selain dari Allah. " (QS. an-Nisa': 171- 173)
Ibnu Katsir berkata dalam Qhisasul Anbiya': Para pengikut Nabi Isa
berselisih pendapat setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebahagian
mereka mengatakan, di tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan
rasul-Nya (Ariyus). Sebahagian lagi mengatakan, dia adalah Allah. Yang
lain lagi mengatakan, dia adalah anak Allah. Mereka berselisih pendapat
tentang Injil yang menyebutkan berbagai kebohongan di mana terdapat
di dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian. Al-Quran al-
Karim telah membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahawa
Allah SWT Maha Suci dari segala sekutu dan anak dan segala hal yang
menyerupai-Nya serta segala bentuk ingkarnasi, kejauhan, kedekatan dan
pencapaian pandangan mata. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.'Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada
pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan
Dia. " (QS. al-Ikhlash: 1-4)
Dan tentang Isa as Allah berfirman: "Sesungguhnya misal (penciptaan)
Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan
Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah'
(seorang manusia), maka jadilah ia." (QS. Ali 'Imran: 59)
"Mereka (orang-orang kafir) berkata: Allah mempunyai anak.' Maha
Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah
kepunyaan Allah; semua tunduk kepadanya. Allah Pencipta langit dan
bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka
(cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah ia." (QS.
al-Baqarah: 116-117)
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putera Allah' dan orang-orang
Nasrani berkata: Al-Masih itu putera Allah.' Demikian itulah ucapan
mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang
kafir terdahulu. Mereka di laknat oleh Allah; bagaimana mereka
sampai berpaling?" (QS. Al-Aubah: 30)
Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang
seperti mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka
terfokus pada keyakinan penyaliban Isa, tentang tebusan dan
kebangkitan Tuhan yang disembelih serta penentangannya terhadap para
pengikutnya setelah kematiannya.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya telah kafilah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya
Allah itu ialah al-Masih putera Maryam.' Katakanlah: 'Maka siapakah
(gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia
hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu berserta ibunya
dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?' Kepunyaan
Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. al-Maidah: 17)
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah
seorang dari yang tiga,' padahal sekali-kali tidak ada selain dari Tuhan
Yang Esa." (QS. al-Maidah: 73)
Demikianlah Al-Quran al-Karim menyebutkan sikap berbagai aliran yang
saling berlawanan yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Quran
menjelaskan bahawa al-Masih adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul
yang diutus kepada Bani Israil. Kata hamba dan rasul adalah kata yang
sangat jelas ertinya, adapun yang dimaksud dengan al-Kalimah dan ar-
Roh, maka kedua kata tersebut perlu dijelaskan. Kaum Muslim
memahami bahawa al-Kalimah adalah petunjuk Allah SWT yang
diberikan-Nya kepada Maryam sedangkan ar-Roh adalah menunjukkan
atau mengisyaratkan kepada Roh Kudus, yaitu Jibril as. Allah SWT telah
menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan roh yakni Jibril:
"Dan (ingatlah) ketika Aku dukung kamu dengan Ruhul Kudus." (QS.
al-Maidah: 110)
Setelah mengemukakan keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa
dan akhir dari kehidupannya dan setelah menjelaskan kebenaran yang
Allah SWT ceritakan kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari
kehidupan yang dialami oleh Nabi Isa, kita ingin mengetahui apa yang
harus dilakukan oleh kaum Muslim dalam hubungan mereka dengan
orang-orang Masehi serta keyakinan mereka. Islam menetapkan atau
menyampaikan nas-nas yang jelas yang mengkhususkan agama Masehi - di
antara agama-agama yang lain - dengan kecintaan. Al-Qu'ran mengingkari
ketuhanan al-Masih; ia juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa
yang dilakukannya. Namun Al-Quran menegaskan dalam nasnya bahawa
agama Nasrani merupakan agama yang lebih dekat kecintaannya kepada
Islam. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-
orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu
dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang
beriman ialah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya kami ini
orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan kerana di antara
mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan
rahib-rahib, (juga) kerana sesungguhnya mereka tidak
menyombongkan diri." (QS. al-Maidah: 82)
Allah SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas
petunjuknya. Allah SWT berfirman:
"Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa
santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah
(keadaan tidak menikah dan mengurung diri di biara) padahal kami
tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi mereka sendirilah yang
mengada-adakannya untuk mencari keredhaan Allah." (QS. al-Hadid:
27)
Tidak terdapat kontradiksi dari dua sikap tersebut. Pengingkaran Al-
Quran terhadap ketuhanan al-Masih dan pengakuannya terhadap
kecintaan kaum Nasrani serta pujiannya terhadap orang-orang yang
mengikuti Nabi Isa mengandung makna lebih dari satu: Pertama, bahawa
Masehi berdasarkan pada agama Tauhid dan sangat sulit bagi para
pengikutnya untuk meninggalkan tauhid, dan hanya Allah SWT yang
mengakui hakikat apa yang terpendam dalam hati; kedua, dalam
kalangan orang-orang Nasrani terdapat para pendeta dan para rahib yang
tidak bersikap congkak di hadapan Allah SWT tetapi mereka sangat patuh
dan tunduk kepadanya; ketiga, sebahagian pengikut Nabi Isa memiliki
hati yang dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat. Tentu rahmat dan
kasih sayang tersebut tidak tumbuh kecuali dari keimanan terhadap hari
akhir. Allah SWT telah menetapkan perintah-Nya kepada kaum Muslim
agar mereka memperlakukan ahlul kitab dengan perlakuan yang mulia
dan baik, sebagaimana Islam menjamin kebebasan untuk menentukan
keyakinan pada setiap manusia. Allah SWT berfirman:
"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang
yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa
manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman
semuanya?" (QS. Yunus: 99)
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah." (QS. al-
Baqarah: 256)
"Katakanlah: 'Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan
kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita
persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian
kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika
mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: 'Saksikanlah,
bahawa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada
Allah).'" (QS. Ali 'Imran: 64)
Kita perhatikan bahawa ayat-ayat tersebut berbicara tentang cara
memperlakukan kaum Masehi sebagai individu sebagaimana ia berbicara
tentang bagaimana kita memperlakukan keyakinan mereka. Sehubungan
dengan kaum Masehi sebagai individu, kita menyaksikan ayat-ayat
tersebut memerintahkan untuk membalas kecintaan yang mereka
perlihatkan di mana nas tersebut dengan tegas mengatakan bahawa
mereka lebih dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman. Jika
Allah SWT yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus
membalas kebaikan dan kecintaan yang ditunjukkan oleh kaum Nasrani.
Adapun sehubungan dengan keyakinan mereka, di dalam Al-Quran
terdapat banyak ayat yang melarang untuk memaksa manusia dalam
bentuk apa pun. Allah SWT berfirman:
"Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang
siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa
yang ingin kafir biarlah ia kafir." (QS. al-Kahfi: 29)
Yang demikian itu, kerana keimanan yang didahului dengan paksaan
adalah bukan keimanan kerana ia berarti mencabut ikhtiar atau
kebebasan manusia, padahal itu adalah syarat dari keimanan. Dan
barangkali inilah yang menunjukkan kesempurnaan Islam di lihat dari
sikapnya yang demikian indah. Kami kira tanpa kita harus memaksakan
tafsiran kita kepada ayat-ayat tersebut dan memohon kepada Allah SWT
dari kesalahan dan kebodohan bahawa Islam dengan sikapnya itu ingin
menjauhkan para pengikutnya dari kalangan awam dari perdebatan yang
panjang dan melelahkan seputar keyakinan orang lain. Tentu perdebatan
tersebut tidak akan berhujung dan akan menjadi seperti debat kusir saja.
Namun tugas tersebut hanya di emban oleh para ulama, di mana mereka
membahas sebagaimana mereka kehendaki berbagai keyakinan-keyakinan
keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi tanggung
jawab dalam hal itu. Lagi pula, perselisihan antara keyakinan dan aliran-
aliran di kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan orang-
orang awam, maka itu hanya memboroskan waktu dan hanya membuat
lelah saja.
Islam akan kembali menjadi asing dan akan kembali menjadi asing
seperti pertama kali terbit. Dalam suasana keasingan Islam yang
pertama, orang-orang Muslim berhasil membangun suatu individu Muslim
yang kukuh. Dan ketika bangunan tersebut telah selesai, maka
sempurnalah pembangunan pemerintahan Islam. Kita tidak mendengar
bahawa salah seorang di antara mereka terlibat dalam perdebatan yang
sengit yang tidak berhujung sekitar keyakinan orang lain. Sesungguhnya
memberi petunjuk kepada orang lain sehingga orang tersebut mengetahui
jalan menuju Allah SWT adalah perbuatan yang indah, tetapi hidayah
tersebut didahului dengan tekad seseorang untuk memberikan petunjuk
kepada dirinya sendiri. Seandainya orang-orang Islam membimbing
mereka menuju jalan Allah SWT nescaya Allah SWT memberi petunjuk
melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.
Al-Quran menetapkan dua mukjizat kepada Nabi Isa yang tidak
disebutkan dalam kitab Injil: pertama mukjizat yang berupa
pembicaraannya saat ia masih menyusui di buaian. Dan yang kedua
mukjizat makanan yang turun dari langit kepada kaum Hawariyin.
Sebagaimana Al-Quran menetapkan kemuliaan yang diperoleh oleh Nabi
Isa saat ia diselamatkan dari tangan-tangan jahat orang-orang Yahudi
yang ingin menyeksanya atau membunuhnya sehingga Nabi Isa
terselamatkan dan dia diangkat ke langit. Rasulullah saw mewasiatkan
kepada sahabatnya agar mereka memperlakukan orang-orang Masehi
dengan penuh kebaikan, bahkan beliau menikahi Maria al-Qibthiya. Ibnu
Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa seseorang lelaki dari Bani
Salim bin Auf yang bernama al-Hasin mempunyai dua orang anak yang
masih Kristen, lalu ia masuk Islam dan bertanya kepada Rasulullah saw
bagaimana seandainya ia harus memaksa kedua anaknya untuk memeluk
Islam sedangkan mereka berdua menolak agama lain selain agama
Masehi? Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi:
"Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam)." (QS. al-Baqarah:
256)
Ketika para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah
untuk berunding dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah
dari masjidnya agar mereka dapat melaksanakan solat dengan cara
mereka di dalamnya. Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk
melakukan solat kepada seseorang jenazah lalu dikatakan kepadanya
bahawa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah menjawab:
"Bukankah ia adalah manusia." Dalam kesempatan lain Rasulullah saw
bersabda: "Barang siapa yang mengganggu secara aniaya seorang Yahudi
atau seorang Nasrani, maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat."
Terkadang kekuasaan akan langgeng meskipun disertai dengan kekufuran
tetapi ia tidak akan abadi ketika disertai dengan kelaliman.
Para ulama Islam berselisih pendapat berkaitan dengan keadaan Nabi Isa
setelah pengangkatannya. Mereka sepakat bahawa beliau tidak disalib
tetapi Allah SWT mengangkatnya di sisi-Nya. Tetapi ketika ia tidak
disalib, maka bagaimana keadaannya setelah itu: apakah ia masih hidup,
ataukah ia mati seperti matinya nabi yang lain? Majoriti mengatakan
bahawa Allah SWT mengangkat Isa dengan fiziknya dan rohnya di sisi-
Nya. Mereka mengambil zahir dari firman-Nya:
"Tetapi Allah mengangkatnya di sisi-Nya." (QS. an-Nisa': 158)
Juga sebahagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu,
kelompok yang lain dari kalangan mufasirin, dan ini adalah kelompok
yang minoriti, mereka mengatakan bahawa Nabi Isa hidup sehingga Allah
SWT mematikannya sebagaimana Dia mematikan nabi-nabi-Nya lalu Dia
mengangkat rohnya di sisi-Nya sebagaimana roh para nabi diangkat,
begitu juga roh para shidiqin (orang-orang yang benar) dan syuhada.
Mereka mengambil zahir firman-Nya:
"(Ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai ha, sesungguhnya Aku akan
menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu
kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir."
(QS. Ali 'Imran: 55)
Kami sendiri lebih memilih pendapat yang pertama kerana ia sangat
sesuai - sebagai mukjizat yang luar biasa - dengan kelahiran Isa di mana
kelahiran tersebut dipenuhi dengan mukjizat yang luar biasa, juga sesuai
dengan kehidupannya dan kesuciannya. Jadi, kedua-duanya merupakan
mukjizat yang luar biasa.